Lautan Langit karya Kurniawan Gunadi. Adalah buku kedua setelah Hujan Matahari . Sama seperti karya sebelumnya, Lautan Langit merupakan kumpulan prosa dan cerita yang di ambil dari tulisan-tulisan di blog tumblr penulis maupun yang belum pernah dipublikasikan. Lautan Langit sarat akan makna, kita bisa mengambil pesan dari setiap prosa maupun cerita yang dituliskan. Berikut beberapa kutipan dari Lautan Langit : “Tujuan yang sama akan mepertemukan orang-orang dalam perjalanan.” “Laki-laki yang baik mungkin adalah yang selalu khawatir tidak layak jadi pilihan.” “Perempuan yang baik bagi ayah adalah perempuan yang sulit di mengerti. Sebab penjagaan dirinya yang begitu rapi hingga tak ada celah buat orang lain untuk mengetahuinya.” “Semoga Allah menyelamatkan orang-orang yang lemah karena jatuh cinta.” “Harapanku dan harapanmu mungkin saja berebeda, namun siapa sangka bila ternyata muara kita sama. Aku berdoa seperti itu, entah kamu.” “….. tapi semua orang tahu ba...
“Kebetulan? apalah arti kata itu? Sama seperti aku tidak pernah mengerti apa makna kata kesempatan”. Saya memiliki makna sendiri tentang kata kebetulan dan kata kesempatan. Bagi saya segala sesuatu yang terjadi adalah telah menjadi ketentuanNya. Yang namanya kebetulan bisa direncanakan, kebetulan yang tidak disengaja maupun disengaja. Kebetulan yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan, dan jika kebetulan itu terjadi mungkin hanya sebagian orang yang memanfaatkan dan menganggapnya sebagai sebuah kesempatan. Saya percaya semua yang terjadi pada diri saya, entah itu sesuatu yang kali pertama terjadi atau untuk kedua kalinya, saya hampir tidak pernah melewatkan sedikitpun. Dan saya tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah kebetulan melainkan itu sebuah kesempatan . Karena boleh jadi saya tidak akan pernah kembali mendapatkan “kesempatan” itu. “Jangan pernah kehilangan moment untuk sesuatu hal apapun. Karena kesempatan kedua tidak selalu ada, kalaupun ada keadaannya aka...
“Gagal sekali itu biasa berkali-kali juga biasa karena sesungguhnya yang diingat adalah keberhasilan yang sekali”. Kalimat di atas adalah kutipan artikel dari Ahmad Fuadi penulis Trilogi Negeri 5 Menara di harian Kompas Dua Tahun lalu. Kalimat tersebut menjadi penggugah semangat ketika hasil tidak sesuai dengan harapan. Seperti yang saya alami ketika mengikuti lomba cerpen di salah satu Penerbit setahun kemarin. Namun sayang, saya gagal. Sungguh perasaan saya saat itu sangat kecewa, tapi itu pasti keputusan yang terbaik. Tulisan saya mungkin belum begitu baik atau belum layak untuk diterbitkan. Jika diuraikan ketika mengikuti lomba cerpen setahun kemarin. Ada 3.529 naskah peserta dan hanya 30 terbaik yang menjadi pemenang dan dibukukan. Dan tulisan saya pun langsung tersisih di tahap awal. Hmm, sangat mengecewakan. Lalu saya mengirimnya di salah satu majalah dan hasilnya pun di rijek dengan alasan ceritanya “Monoton”. Hanya Satu kata tapi membuat saya mengerti, ternyat...
Comments
Post a Comment